Membaca Kembali Arsitektur Pemeriksaan Saksi dalam Pasal 214 KUHAP Baru
Salah satu perubahan yang menarik dalam hukum acara pidana Indonesia adalah bagaimana UU Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana mengatur secara lebih terstruktur mengenai siapa yang mengajukan pertanyaan dalam pemeriksaan Saksi dan Ahli di persidangan. Undang-undang tersebut telah menggantikan UU No. 8 Tahun 1981 dan mulai berlaku pada 2 Januari 2026. [peraturan.bpk.go.id]
Persoalan praktis kemudian muncul:
Apakah Terdakwa masih dapat secara langsung mengajukan pertanyaan kepada Saksi di persidangan?
Jika Pasal 214 dibaca secara tekstual dan sistematis, jawabannya mengarah pada satu kesimpulan penting:
Pasal 214 tidak menempatkan Terdakwa sebagai subjek yang secara mandiri mengajukan pertanyaan kepada Saksi.
Di sinilah keberatan Advokat menjadi relevan.
Siapa yang Berhak Bertanya?
Pasal 214 membentuk urutan pemeriksaan yang cukup jelas. Terhadap Saksi atau Ahli yang dihadirkan Penuntut Umum, Penuntut Umum bertanya terlebih dahulu, kemudian Advokat dapat mengajukan pertanyaan, dan Penuntut Umum memperoleh kesempatan mengajukan pertanyaan kembali untuk memperjelas jawaban yang diberikan kepada Advokat. [pasal.id]
Sebaliknya, terhadap Saksi atau Ahli yang dihadirkan Advokat, Advokat mengajukan pertanyaan terlebih dahulu. Setelah itu Penuntut Umum dapat bertanya, kemudian Advokat dapat kembali mengajukan pertanyaan untuk memperjelas jawaban yang diberikan kepada Penuntut Umum. [pasal.id]
Menariknya, Pasal 214 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) juga menyebut Terdakwa sebagai pihak yang diberi pertanyaan, bukan sebagai pihak yang mengajukan pertanyaan. [pasal.id]
Inilah perbedaan yang tidak boleh dianggap sekadar pilihan kata.
Terdakwa Adalah Subjek yang Diperiksa, Bukan Pemeriksa Saksi
Struktur Pasal 214 memperlihatkan diferensiasi peran yang tegas.
Penuntut Umum dan Advokat mengajukan pertanyaan.
Saksi, Ahli, dan Terdakwa memberikan jawaban atau keterangan.
Sedangkan Hakim memiliki kewenangan tersendiri untuk melakukan klarifikasi dan meminta kepada Saksi segala keterangan yang dipandang perlu untuk mendapatkan kebenaran. [pasal.id]
Dengan konstruksi demikian, terdapat alasan tekstual yang kuat untuk membedakan antara hak Terdakwa untuk melakukan pembelaan dan hak untuk secara pribadi melakukan pemeriksaan silang terhadap Saksi.
Keduanya tidak identik.
Hak untuk membela diri tidak dengan sendirinya berarti bahwa setiap instrumen pemeriksaan persidangan harus dilakukan sendiri oleh Terdakwa.
Justru Pasal 214 tampak membangun mekanisme representasi pembelaan dalam pemeriksaan saksi: pertanyaan dari sisi pembelaan diajukan melalui Advokat.
Hal tersebut konsisten dengan arah pembaruan KUHAP yang, berdasarkan abstrak resmi undang-undangnya, antara lain ditujukan untuk melakukan penguatan peran advokat. [peraturan.bpk.go.id]
Lalu, Bagaimana Jika Terdakwa Ingin Menanyakan Sesuatu?
Di sinilah perlu dibedakan antara substansi pertanyaan dan siapa yang menyampaikan pertanyaan.
Apabila Terdakwa didampingi Advokat dan terdapat fakta tertentu dari keterangan Saksi yang menurut Terdakwa perlu dikonfrontasi, diuji, atau diperjelas, kepentingan pembelaan tersebut tidak serta-merta hilang hanya karena pertanyaan tidak disampaikan langsung oleh Terdakwa.
Pertanyaan tersebut dapat disalurkan melalui Advokat untuk diajukan kepada Saksi.
Dengan konstruksi demikian, hak pembelaan tetap terlindungi, tetapi tata tertib dan pembagian peran dalam pemeriksaan persidangan tetap mengikuti desain Pasal 214.
Ini juga selaras dengan penguatan posisi Advokat dalam KUHAP baru. Pemberitaan mengenai ketentuan tersebut mencatat bahwa hak Advokat mencakup menghadiri sidang dan mengajukan pembelaan terhadap Terdakwa serta meminta keterangan Saksi dan Ahli dalam sidang pengadilan. [hukumonline.com]
“Keberatan, Yang Mulia. Pertanyaan Agar Diajukan Melalui Advokat.”
Dengan kerangka tersebut, apabila seorang Terdakwa yang telah didampingi Advokat hendak langsung melakukan tanya jawab dengan Saksi, keberatan secara hukum dapat dirumuskan, misalnya:
“Keberatan, Yang Mulia. Berdasarkan tata cara pemeriksaan sebagaimana diatur dalam Pasal 214 KUHAP, pihak yang diberikan kewenangan untuk mengajukan pertanyaan kepada Saksi adalah Penuntut Umum dan Advokat, sedangkan Terdakwa ditempatkan sebagai pihak yang dapat dimintai keterangan atau menjawab pertanyaan. Oleh karena Terdakwa telah didampingi Advokat, apabila terdapat hal yang hendak diklarifikasi dari keterangan Saksi, mohon pertanyaan tersebut disampaikan melalui Advokat.”
Namun, terdapat satu kehati-hatian penting.
Pasal 214 ayat (7) secara eksplisit memberikan kewenangan kepada Hakim ketua sidang untuk menolak pertanyaan yang diajukan oleh Penuntut Umum atau Advokat apabila pertanyaan tersebut dinilai tidak relevan dengan perkara, dengan kewajiban menyebutkan alasan mengapa pertanyaan tertentu tidak diperbolehkan. Sementara itu, ayat (8) memberi Hakim kewenangan mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi, dan ayat (9) memungkinkan Hakim meminta kepada Saksi keterangan yang dipandang perlu untuk mendapatkan kebenaran. [pasal.id]
Dengan demikian, pengendalian pemeriksaan tetap berada pada Hakim ketua sidang.
Bukan Membatasi Hak Terdakwa, tetapi Mengatur Cara Hak Itu Dilaksanakan
Poin ini sangat penting.
Pernyataan“Terdakwa tidak boleh bertanya kepada Saksi” sebaiknya tidak dibaca sebagai penghapusan hak pembelaan Terdakwa.
Formulasi yang lebih presisi secara yuridis adalah:
Pasal 214 tidak memberikan kewenangan eksplisit kepada Terdakwa untuk mengajukan pertanyaan secara langsung kepada Saksi. Dalam konstruksi pasal tersebut, pemeriksaan Saksi dari pihak pembelaan dilakukan melalui Advokat, sementara Hakim tetap memegang kewenangan untuk melakukan klarifikasi dan menggali keterangan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran. [pasal.id]
Perbedaannya fundamental.
Yang dibatasi bukan hak Terdakwa untuk memperoleh pembelaan atas keterangan Saksi, melainkan terdapat pengaturan mengenai subjek yang menjalankan fungsi bertanya dalam pemeriksaan persidangan.
Penutup: Ruang Sidang Memiliki Arsitektur Peran
Persidangan pidana bukanlah percakapan bebas antara Terdakwa dan Saksi.
Pasal 214 KUHAP baru membangun arsitektur pemeriksaan: Penuntut Umum memeriksa Saksi yang diajukannya, Advokat memperoleh kesempatan bertanya; terhadap Saksi yang diajukan pihak pembelaan, Advokat bertanya terlebih dahulu dan Penuntut Umum memperoleh kesempatan berikutnya. Hakim berada pada posisi mengendalikan relevansi pertanyaan sekaligus melakukan klarifikasi untuk kepentingan pencarian kebenaran. [pasal.id]
Karena itu, ketika Terdakwa yang telah didampingi Advokat hendak bertanya sendiri kepada Saksi, kalimat“Keberatan, Yang Mulia” bukan semata persoalan formalitas persidangan.
Ia dapat merupakan konsekuensi dari pembagian fungsi yang dibangun oleh Pasal 214.
Terdakwa tetap berhak membela diri. Terdakwa tetap berkepentingan menguji keterangan yang memberatkannya. Namun, menurut konstruksi Pasal 214, pengajuan pertanyaan kepada Saksi dari sisi pembelaan ditempatkan pada Advokat, bukan secara eksplisit pada Terdakwa pribadi. [pasal.id], [hukumonline.com]
***Tulisan ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan telah ditinjau serta disunting oleh penulis.
Pos - RSS