Ada ungkapan atau peribahasa di kehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal berupa:
"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan"
yang diartikan dengan mengatakan sesuatu terhadap keadaan orang lain dengan tidak sebenarnya, atau menuduh seseorang dengan yang tidak sebenarnya.
Apakah hal demikian tepat untuk penggunaan kata-bahasa Indonesia, yakni kata "fitnah" dikaitkan dengan ‘menuduh atau mengatakan keadaan seseorang yang tidak sebenarnya’?
Untuk menjawab hal tersebut, kita perlu menengok terlebih dahulu sumber asli dari kata "fitnah" yakni dari bahasa Arab, dan tentunya pula keotentikan arti tersebut dapat pula diambil dari bahasa Qur’an, yaitu:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَـٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Pos - RSS