Pengalaman penulis yang sampai dengan sekarang selalu terbesit adalah pembicaraan penulis dengan seorang teman, katakanlah si Fulan, di dalam bis Depok-Priok tujuan Depok semasa kuliah.
Pembicaraan itu adalah penulis mengatakan “kasihan” atas apa yang telah menimpa temanku itu, tetapi anehnya temanku itu mengatakan, “Ia tidak mau dikasihani.” Dengan berbagai alasan ia ungkapkan.
Ungkapan “tidak mau dikasihani” selalu menjadi pertanyaan bagi penulis. Karena kebanyakan seorang manusia yang masih mempunyai kasih sayang dan rasa iba, pastilah mengungkapkan perkataan “kasihan” atas musibah yang menimpa seseorang atau situasi yang di luar kebiasaan.
Pos - RSS